Sukabumi (15/12). Dua kelompok petani binaan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) BAZNAS yang terdiri dari Kelompok Tani Riung Gunung dan Sari Alam di Desa Cibatu, Kec. Cikembar, Kab Sukabumi, mulai menerapkan sistem penomoran beras menggunakan kode pada produk beras organik olahan petani binaan.

Serial kode pada beras organik menentukan asal mula proses tanam dan kepemilikan beras. Tujuannya adalah untuk mengetahui ketelusuran asal gabah pada saat produksi hingga menjadi beras siap jual, sehingga apabila ada komplain dari konsumen yang mempertanyakan kualitas beras, bisa dilihat dari riwayat penggilingan pada saat itu menggunakan gabah yang berasal dari petani dengan kode yang tertera.

Format penulisan yang dipakai pun terlihat cukup mudah untuk diketahui. Dalam kesempatan itu, Pendamping program Lumbung Pangan BAZNAS, Syahrul menyebutkan bahwa kode yang tertera merupakan gabungan dari kode sertifikasi petani, nomor anggota, tanggal penjualan, varietas padi dan gabah.

Format tersebut dicontohkan dengan apabila ada petani atas nama Ajuk anggota kelompok Tani Sari Alam BAZNAS pada tanggal (15/12/2020) menjual gabah kering dengan varietas tanaman Inpari 33 kepada kelompok tani seberat 50 Kg, maka akan dituliskan kode pada karung yaitu “SAB-03/15-12-20/Inpari33/50kg”.

“Saat ini, setiap anggota petani punya kode lahan sendiri dan approve list dari lembaga sertifikasi.” ujar Syahrul

Pada saat melakukan penggilingan padi, petugas penggilingan gabah akan menulis sumber gabah dari siapa saja yang akan digiling. Dengan demikian, produk akan mudah ditelusuri apabila terjadi hal-hal yang tidak terduga.

#BAZNAS
#LPEM
#LumbungPangan
#SemestaKebajikanZakat
#LekasPulihIndonesia

Leave a Comment